PROFILE


Senjata Semesta
An Angel in Nekropolis;
The Kingdom of the Dead

"Jangan kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."
(Matius 10:34)



Quote of the week:
"Smooth ice is paradise, for those who dance with expertise." -Friedrich Nietzsche, 'For Dancers'.

Contact Me through this cyber stuff: senjata_semesta(at)yahoo.com


Add Me @ Friendsta'


Fly With Me To The 'Space'

PREVIOUS POSTS

Alive Semesta Penderitaan dan Keindahan Joy To The World Menjual Agama Seperti Menjual Hamburger Badai Menari Dengan Sesuka Hatinya Tuhan Ada Karena Diadakan Distopia Dalam Film-Film Holywood Moralitas Seorang Imoral A Sane Revolution

ARCHIVES

11/23/2003 - 11/30/2003
11/30/2003 - 12/07/2003
03/07/2004 - 03/14/2004
04/11/2004 - 04/18/2004
05/09/2004 - 05/16/2004
05/16/2004 - 05/23/2004
05/23/2004 - 05/30/2004
06/27/2004 - 07/04/2004
11/07/2004 - 11/14/2004
11/21/2004 - 11/28/2004
11/28/2004 - 12/05/2004
12/05/2004 - 12/12/2004
12/12/2004 - 12/19/2004
12/26/2004 - 01/02/2005
09/18/2005 - 09/25/2005
02/05/2006 - 02/12/2006
03/05/2006 - 03/12/2006
04/01/2007 - 04/08/2007

LINKS

Jaringan Otonomis
New Babylon
Anarkia
Jakarta Anarchist Resistance
Food Not Bombs
Indymedia
Cyber Resistance
Lyssa Belum Tidur
Sayap Ikarus
Madu-Racun

'MASSAGES'



Name
Email
URI
Msg

join my Notify List and get notification email when I update this site:
email:
Powered by NotifyList.com



Users Online @ This Precious Moment

DOWNLOAD


8.2.06

ZAMAN MODERN

Kita hidup di zaman modern, dan tampaknya tak ada lagi yang lebih modern dari negara Amerika Serikat -tanah kebebasan dan tanah bagi para pemberani. Tetapi apa yang menyebabkan ‘Impian Amerika’ secara fundamental berbeda dari setiap masyarakat yang telah eksis sebelum kita? Jawabannya adalah konsumerisme massa atau lebih tepatnya sering disebut komodifikasi.

Dalam masyarakat kita segala sesuatu dibuat sebagai sebuah komoditas; barang maupun juga jasa yang dapat diperjualbelikan dalam sebuah pasar. Sebenarnya pasar dan uang telah lama eksis, bahkan sudah ratusan tahun lamanya, tetapi selalu saja hanya menjadi milik dari sebagian kecil saja dari seluruh masyarakat. Setidaknya hingga abad ini, sistem ekonomi pasar telah menjadi cara hidup masyarakat yang dominan; semakin mengambil alih segala aspek sisi kehidupan manusia. Kini tak ada lagi hubungan yang nyata antara produksi barang dengan kegunaannya. Malahan segala produk diproduksi hanya dengan mempunyai satu tujuan, yaitu menciptakan laba bagi mereka yang sama sekali tidak termasuk dalam proses produksi. Hal tersebut menghilangkan perbedaan yang memisahkan apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan atau tidak.

Selama sebuah perusahaan mengeruk keuntungan dan menumpuk laba, hal itu selalu saja dilakukan dan dikaitkan dengan alasan akan kontribusinya bagi peningkatan ekonomi sosial yang berpengaruh juga pada kenaikan harga barang-barang biasa (selain hasil produksi dari perusahaan tersebut). Bahkan untuk aktifitas produksi yang sebenarnya perlu dilakukan, bila dianggap kurang memenuhi standar pendapatan laba, selalu saja dianggap bukan ‘produk nyata’; tidak peduli seberapa berharga dan perlunya produk yang dihasilkan tersebut sebenarnya. Tapi ternyata kenyataan lebih buruk lagi dari hal ini. Dalam usaha untuk menghasilkan barang-barang yang diperlukan, kebanyakan orang (termasuk juga diri kita) dipaksa untuk membuat diri kita menjadi sebuah komoditas; disewakan pada sebuah pasar dengan harga tertinggi. Untuk meningkatkan nilai kita dalam harga jual sebuah pekerjaan, kita harus menginvestasikan diri kita melalui bidang pendidikan.

Sebenarnya hal terpenting dari diadakannya pendidikan ‘kemampuan bekerja’ adalah untuk belajar bagaimana menerima perintah dan menjalankan tugas-tugas yang kita terima seperti sebuah robot yang tentu saja tidak punya otak. Ingat, kita selalu diajarkan bahwa kostumer selalu benar. Kenapa? Karena mereka memiliki uang, yang dengan kata lain mereka membeli sebagian dari waktu yang kita miliki.

Dalam bekerja, kita tidak lagi mendapat kebebasan, kita tidak lebih daripada sebuah barang sewaan yang digunakan dalam sebuah sistem pengeruk laba. Pasaran pekerjaan tidak hanya membuat diri kita menjadi sebuah komoditas, tetapi juga membuat diri kita sebagai waktu itu sendiri. Waktu diluar jam kerja kita, eksis sebagai milik kita, yang tetapi ternyata juga dibuat sebagai sebuah unit-unit yang kaku dari sebuah ukuran, sisa waktu yang membuat kita menyadari bahwa tidak ada tujuan lain selain mendapatkan uang yang dapat kita gunakan dalam ‘waktu luang’ kita. ‘Waktu luang’ ini adalah saat dimana kita seharusnya bisa menyalurkan hasrat kita dan merealisasikan impian kita.

Tapi pada saat ini, (lagi-lagi) hasrat dan impian kita -seperti juga hal lainnya- telah dibuat sebagai sebuah komoditas yang diperjual belikan di pasaran. Jadi pada kesimpulannya, zaman modern tidak memiliki arti lebih selain berarti hanya zaman bagi kita untuk mengkonsumsi dan mengkonsumsi lagi. Politik pemerintahan dan pemilihan-pemilihan umum seperti juga hal lainnya, telah dibuat sebagai sebuah komoditas yang dipasarkan sama seperti cara memasarkan sebuah produk deodoran, atau juga mobil, atau juga produk lainnya.

Iklan tayangan komersial di televisi selama tigapuluh detik memberitahukan kepada kita bahwa jika kita memilih partai X dengan presiden X, bukannya memilih partai Y dengan calon presiden Y, maka negara kita akan menjadi makmur dan kita akan mendapat kehidupan yang lebih baik. Tentu saja semua orang juga tahu bahwa iklan-iklan komersial pemilu banyak bohongnya dan tidak ada perbedaan yang nyata dengan iklan Coca-cola, dan juga tak ada seorangpun benar-benar percaya pada iklan-iklan komersial yang memberitahukan bahwa ‘segalanya akan menjadi lebih baik bila meneguk Coca-cola’.

Mengapa politik terlihat tidak berbeda? Karena orang-orang hanya mencurahkan sedikit perhatiannya pada hal tersebut dan mereka akan memilih siapapun calon presiden yang paling sering muncul dan terlihat lebih baik di dalam berbagai pemberitaan di televisi. Satu-satunya bagian dari kehidupan yang benar-benar selalu dipertimbangkan dari semua rutinitas keseharian, adalah ‘keluarga’.

Zaman dulu, keluarga adalah sebuah blok bangunan fundamental dari masyarakat. Saat ini, keluarga adalah pengingkaran dari masyarakat; keluarga adalah tempat dimana kita dapat melarikan diri dari dunia di sekeliling kita. Keluarga adalah tempat dimana kita dapat mengeluarkan rasa kefrustasian kita pada orang yang kita cintai, tanpa perlu membuat perubahan dalam kehidupan masyarakat nyata. Hal ini juga akan menjadi alasan kenapa banyak politikus-politikus konservatif sangat mencintai keluarga mereka (sehingga mampu mengutamakan kepentingan keluarga diatas kepentingan masyarakat banyak yang mengarah pada terjadinya tindakan-tindakan korupsi dan sejenisnya). Tirani-tirani jaman dulu mempertahankan kekuasaan berikut aturan-aturannya dengan memproklamirkan bahwa diri mereka pernah bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan para dewa, sehingga oleh masyarakat mereka dianggap sebagai wakil para dewa diatas bumi. Sama seperti aturan-aturan saat ini yang mengklaim bahwa aturan tersebut diletakkan dalam pasar oleh ‘tangan suci’. Dan seperti juga pelajar-pelajar zaman dahulu yang mempelajari benda-benda (yang dianggap) suci untuk melihat sesuatu yang magis, saat ini kaum borjuis mengirim anak-anak mereka ke universitas-universitas untuk mempelajari hukum-hukum pasar dan ekonomi, walaupun sebenarnya sebagaimanapun beratnya mereka belajar, mereka tak akan pernah berusaha untuk mempelajari jalan-jalan dari sistem dan prinsip ekonomi kapitalis itu sendiri.

Apa yang masih tersisa yang harus kita lakukan sebagai manusia yang terjerat dalam pengeksploitasian diri kita sendiri tetapi masih mengharapkan sebuah kehidupan yang bebas? Apakah kita harus melemparkan diri kita sendiri pada roda-roda mesin dan kemudian berusaha menghentikannya dengan menggunakan tubuh kita sendiri, seperti yang telah dilakukan oleh para pelajar radikal pada pergerakan di Perancis pada tahun 60-an? Apakah kita harus membalikan punggung kita dari kekuasaan kemudian berusaha dengan susah payah untuk membangun kehidupan alternatif dalam batas masyarakat, dimana kita bisa berharap untuk dapat membangun komunitas kita sendiri yang bebas? Ataukah kita mungkin harus menunggu waktu yang tepat dan berharap bahwa akan datang pada kita sebuah kesempatan untuk menyerang kemapanan?

Mungkin kita tidak bisa menghentikan laju dari monster kapitalisme tersebut, tetapi setidaknya pada akhirnya biarkanlah kita ‘melemparkan sedikit pasir pada tatanan mesin mereka’ untuk hanya demi mempertahankan martabat kita dan untuk memberi respek pada diri kita sendiri.

(Felix Frost/Nihil Press)