PROFILE


Senjata Semesta
An Angel in Nekropolis;
The Kingdom of the Dead

"Jangan kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."
(Matius 10:34)



Quote of the week:
"Smooth ice is paradise, for those who dance with expertise." -Friedrich Nietzsche, 'For Dancers'.

Contact Me through this cyber stuff: senjata_semesta(at)yahoo.com


Add Me @ Friendsta'


Fly With Me To The 'Space'

PREVIOUS POSTS

Marilah Kita Saling Jatuh Cinta... Ode to Beer Zaman Modern Alive Semesta Penderitaan dan Keindahan Joy To The World Menjual Agama Seperti Menjual Hamburger Badai Menari Dengan Sesuka Hatinya Tuhan Ada Karena Diadakan

ARCHIVES

11/23/2003 - 11/30/2003
11/30/2003 - 12/07/2003
03/07/2004 - 03/14/2004
04/11/2004 - 04/18/2004
05/09/2004 - 05/16/2004
05/16/2004 - 05/23/2004
05/23/2004 - 05/30/2004
06/27/2004 - 07/04/2004
11/07/2004 - 11/14/2004
11/21/2004 - 11/28/2004
11/28/2004 - 12/05/2004
12/05/2004 - 12/12/2004
12/12/2004 - 12/19/2004
12/26/2004 - 01/02/2005
09/18/2005 - 09/25/2005
02/05/2006 - 02/12/2006
03/05/2006 - 03/12/2006
04/01/2007 - 04/08/2007

LINKS

Jaringan Otonomis
New Babylon
Anarkia
Jakarta Anarchist Resistance
Food Not Bombs
Indymedia
Cyber Resistance
Lyssa Belum Tidur
Sayap Ikarus
Madu-Racun

'MASSAGES'



Name
Email
URI
Msg

join my Notify List and get notification email when I update this site:
email:
Powered by NotifyList.com



Users Online @ This Precious Moment

DOWNLOAD


30.6.04

A SANE REVOLUTION

If you make a revolution, make it for fun,
Don't make it in ghastly seriousness,
Don't do it in deadly earnest,
Do it for fun.

Don't do it because you hate people,
Do it just to spit in their eye.
Don't do it for the money,
Do it and be damned to the money.

Don't do it for equality,
Do it because we've got too much equality
And it would be fun to upset the apple-cart
And see which way the apples would go a-rolling.

Don't do it for the working-classes.
Do it so that we can
all of us be little aristocracys on our own
And kick our heels like jolly escaped asses.

Don't do it, anyhow, for international Labour.
Labour is one thing a man has had too much of.
Let's abolish Labour, let's have done with Labouring!
Work can be fun, and
men can enjoy it; then it's not Labour.
Let's have it so! Let's make a revolution for fun!
-D.H. Lawrence

29.6.04

APABILA KAMU PERCAYA BAHWA DEMOKRASI SAMA DENGAN PEMILU, MAKA KAMU TELAH TERTIPU!

Dewasa ini, "demokrasi" menguasai dunia, runtuhnya rezim komunis Russia, perang di Afghanistan dan Irak yang mengatas namakan demokrasi, sistem Pemilu yang semakin dipopulerkan di berbagai negara-negara miskin Dunia Ketiga, pertemuan-pertemuan tingkat dunia yang membahas mengenai demokrasi ekonomi, juga rencana akan dilangsungkannya Pemilu pada tahun 2004 nanti di Indonesia, selalu kita dengar dan lihat di koran, radio ataupun televisi. Apakah lalu kita harus bergembira? Kalau memang itu solusi masalah kita maupun dunia, mengapa dunia masih juga berjalan seperti ini, bahkan malah semakin buruk? Apakah ada sesuatu yang salah dengan definisi dari "demokrasi" itu sendiri? Apabila begitu, adakah suatu alternatif dari demokrasi itu sendiri?


Setiap anak kecil dapat tumbuh menjadi seorang Presiden.
Itu bohong. Menjadi seorang Presiden berarti memegang sebuah kekuatan dalam posisi yang hirarkis, sama halnya dengan menjadi seorang Milyuner: untuk ada satu orang Presiden, harus ada milyaran orang yang memiliki kekuatan lebih rendah. Dan seperti halnya dengan keberadaan Milyuner, hal yang sama berlaku dengan keberadaan seorang Presiden: bukan sebuah kebetulan bahwa kedua tipe tersebut saling menguntungkan, semenjak keduanya datang dari dunia yang memiliki banyak hak-hak istimewa dengan cara membatasi hak-hak kita sebagai yang bukan bagian dari mereka. Sistem ekonomi kita, juga, sebenarnya tidaklah demokratis, kita semua sudah tahu: sumber kekayaan didistribusikan dengan proporsi yang secara absurd sangatlah tidak adil, dan untuk menjadi seorang Presiden anda harus memulainya dengan memiliki sumber kekayaan, atau setidaknya memiliki kemampuan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi sumber kekayaan.

Walaupun apabila memang benar bahwa setiap orang dapat tumbuh menjadi seorang Presiden, hal tersebut tidaklah akan menolong milyaran dari kita yang kebetulan tidak menjadi seorang Presiden, yang masih harus hidup dalam bayang-bayang kekuasaannya. Hal inilah yang menjadi sebuah kesulitan struktural yang intrinsik dalam sistem demokrasi yang representatif, dimana kesulitan tersebut terjadi dalam level paling bawah maupun dalam level teratas. Sebagai contoh: Walikota, bersama beberapa orang politisi profesional, dapat mengagendakan pertemuan-pertemuan yang mendiskusikan problem-problem yang dialami oleh warga kota tersebut, kemudian menghasilkan berbagai keputusan setiap harinya untuk ditaati oleh setiap warga kota, tanpa sekalipun mengkonsultasikannya kepada para warganya sendiri. Masalahnya, problem yang dialami oleh tiap warga berbeda-beda, hingga mereka yang tidak mengalami problem yang sama jelas akan merasa keberatan dengan diberlakukannya keputusan sepihak dari Walikota, jadi tidak perlu heran apabila ketidakpuasan jelas akan terus terjadi. Para warga kota dapat memilih Walikota yang lain-walaupun hanya yang telah tersedia dalam daftar politisi atau calon politisi terpilih-tapi kepentingan dan kekuatan dari kelas para politisi tersebut akan selalu bertentangan dengan kepentingan warga kota. Lagipula, para loyalis partai politik selalu saja hanya melakukan hal-hal yang dianggap baik demi mendapatkan kursi kekuasaan dan bagaimana caranya mempertahankan kursi tersebut.

Apabila tidak ada Presiden, maka bukan berarti bahwa "demokrasi" kita tersebut kurang demokratis. Masalahnya, korupsi, kepemilikan hak-hak istimewa dan hirarki tidak akan pernah lenyap biarpun kita telah memilih jutaan Presiden, karena cacat tersebut tidak terletak secara personal pada siapa yang menjadi Presiden, melainkan bahwa hal-hal tersebut merupakan metode-metode pemerintahan yang telah melekat erat dalam bentuk pemerintahan apapun.

Tirani dari mayoritas.
Apabila anda pernah mengalami suatu masa dimana anda menjadi bagian dari kelompok minoritas yang tidak masuk hitungan sama sekali, sementara kelompok mayoritas memutuskan bahwa anda harus kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi diri anda sendiri-tapi dianggap tidak penting oleh kelompok mayoritas, akankah anda menurut demi kepentingan mayoritas (dengan bahasa biasa: kepentingan orang banyak)? Saat hal tersebut terjadi, benarkah seseorang akan menyadari bahwa kekuasaan sekelompok orang ada karena mereka telah menyingkirkan hak-hak orang lainnya? Kita menerima kebenaran mutlak bahwa kepentingan mayoritas itu lebih penting adalah karena kita tidak pernah percaya bahwa hal tersebut akan mengancam kepentingan kita-dan biasanya mereka para minoritas yang telah terancam kepentingannya telah ditutup mulutnya sebelum kita sempat mendengar tentang kondisi yang mereka alami.


Tak ada "masyarakat biasa" mengakui bahwa dirinya terancam oleh aturan mayoritas, karena setiap orang berpikir bahwa ada sebuah "kekuasaan moral" yang menyatakan bahwa kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya: sesuatu yang kalau hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai sebuah fakta (dengan standarisasi nilai "normal"), maka hal tersebut hanya ada dalam teori, yang menyatakan bahwa ide tentang kepentingan mayoritas ada di atas segala-galanya adalah benar adanya. Demokrasi dengan aturan-mayoritas selalu berakhir dengan keputusan bahwa, apabila segala fakta telah benar terbukti, maka semua orang akan dibuat melihat bahwa hanya ada satu macam cara melakukan sesuatu yang bisa dikatakan benar alias hanya ada satu macam kebenaran-tanpa keyakinan seperti ini, maka pola demokrasi seperti demikian tak ada bedanya dengan kediktatoran. Masalahnya, dalam banyak kasus-bahkan apabila "fakta" dapat dihadirkan secara jelas pada semua orang, yang jelas tak akan mungkin, beberapa hal tak dapat disetujui begitu saja, yang merupakan bukti bahwa ada lebih dari hanya satu macam kebenaran. Kita semua membutuhkan sebuah bentuk demokrasi yang menghitung peristiwa-peristiwa perbedaan kebenaran, dimana kita juga bebas dari sebuah sistem kediktatoran mayoritas sebagaimana kediktatoran kelas yang memiliki hak-hak istimewa.

"Aturan hukum"
Perlindungan yang disediakan oleh institusi-institusi legal yang kita miliki sama sekali tidak cukup. "Aturan dan hukum yang adil", yang dewasa ini difetishkan oleh mereka yang memang memerlukan perlindungan atas kepentingannya (misalnya tuan tanah atau direktur bank), tidak dapat melindungi setiap orang dari kekacauan atau ketidak adilan; hal tersebut hanya menciptakan arena spesialisasi baru, dimana kekuatan komunitas yang sebenarnya dimiliki akan direduksi ke dalam sebuah arena jual beli yang mahal untuk membayar hakim atau pengacara. Hak-hak kaum minoritas yang lemah adalah hal yang paling akhir diperhatikan oleh aturan hukum yang ada. Di bawah kondisi demikian, energi kekuatan yang dimiliki oleh kelompok minoritas akan disalurkan kepada soalan pemenuhan kemampuan finansial untuk membiayai institusi pengadilan, bukan digunakan untuk merebut kembali hidup mereka yang telah dirampas.

Memapankan keadilan dalam masyarakat melalui penguatan dan pemaksaan kontrol oleh hukum tidak akan pernah berhasil: beberapa hukum hanya dapat menginstitusionalkan apa yang telah menjadi aturan dalam masyarakat. Apa yang kita butuhkan adalah dengan meninggalkan "demokrasi" representatif, untuk sebuah demokrasi partisipatoris sepenuhnya

Bukan sebuah kebetulan apabila "kebebasan" tak ada dalam kotak Pemilu.
Kebebasan bukanlah sebuah kondisi-melainkan sesuatu yang lebih dapat dikatakan sebagai sebuah sensasi. Hal tersebut bukanlah sebuah konsep janji kesetiaan untuk dituju, sebuah sebab yang mendasai tindakan, ataupun sebuah standar yang mengharuskan kita berbaris di bawah satu bendera, melainkan sebuah pengalaman yang harus anda alami sehari-hari yang bila tidak dialami, maka kebebasan tersebut akan meninggalkan anda. Bukanlah sebuah kebebasan beraksi saat bendera dikibarkan dan bom-bom dijatuhkan hanya demi "membuat dunia aman untuk demokrasi", tak peduli apa warna bendera yang dikibarkan (bahkan juga bendera hitam). Kebebasan tak bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan apapun ataupun doktrin filosofis, dan hal tersebut tak dapat diperkuat dengan cara diberikan kepada orang lain-paling banter anda hanya dapat membebaskan orang lain dari kekuatan yang mengekang orang tersebut dari kemampuannya untuk menemukan kebebasannya sendiri. Kebebasan muncul dalam saat-saat yang sederhana: dalam membuat anak kecil menjadi percaya pada sesuatu, dalam kebersamaan bersama beberapa teman dekat, pekerja yang menolak perintah pimpinan serikat buruh dan malahan mengorganisir pemogokan sendiri tanpa pemimpin. Apabila memang kita memperjuangkan kebebasan kita, maka kita harus mulai untuk berjanji pada diri kita sendiri untuk selalu mengejar dan menghargai momen-momen tersebut dan berusaha untuk mengembangkannya daripada menghabiskan waktu kita untuk melayani kepentingan partai atau ideologi.

Kebebasan nyata tak akan dapat ditemui dalam kotak Pemilu. Kebebasan bukanlah berarti sekedar kemampuan untuk memilih dari beberapa alternatif-melainkan berarti berpartisipasi untuk membuat alternatif sendiri, membentuk dan mendekor ulang lingkungan dimana alternatif-alternatif tersebut dapat terbentuk. Tanpa hal ini, kita tak akan memiliki apapun juga, selain hanya menerima alternatif yang telah ada berulang kali, membuat keputusan yang hasil akhirnya juga akan selalu sama. Apabila pilihan ada di tangan kita, maka segala sesuatu adalah berarti kemungkinan baru. Dan saat telah tiba saatnya untuk mengambil alih kekuatan dan kekuasaan atas diri kita sendiri, tak ada seorangpun juga yang dapat "merepresentasikan" diri kita-hal itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan seorang diri.

"Lihat, kotak suara Pemilu - demokrasi!"
Apabila kebebasan adalah sesuatu dimana telah banyak generasi berjuang dan mati untuknya, maka kotak suara saat Pemilu adalah sebuah pereduksian makna kebebasan itu sendiri; dimana seseorang cukup memasukan pilihan suaranya pada sebuah kotak, kemudian kembali ke tempat kerjanya dimana dirinya tak lagi memiliki kontrol atas hidupnya, yang juga berarti hal tersebut justru tidak dapat dibilang meneruskan perjuangan demi kebebasan yang telah dilakukan lebih dulu oleh generasi-generasi sebelum kita.


Untuk gambaran yang lebih mudah mengenai kebebasan, lihat pada musisi yang sedang melakukan improvisasi musikal bersama beberapa partnernya: ia melakukannya dalam suasana yang menyenangkan, kerjasama yang benar-benar tanpa dipaksakan, mereka dengan aktif mencari nada, tempo dan suasana yang nyaman dimana mereka dapat eksis, semua berpartisipasi untuk mentransformasikan dunia yang sebaliknya juga mentransformasikan diri mereka. Ambil model tersebut dan terapkan pada setiap interaksi kita dengan orang lain, maka anda akan memiliki sesuatu yang secara kualitas lebih baik daripada sistem yang ada saat ini: sebuah harmoni dalam hubungan dan kehidupan manusia, sebuah demokrasi yang sesungguhnya. Untuk mencapai titik tersebut, kita harus mulai menganggap Pemilu sebagai sebuah ekspresi kebebasan dan partisipasi yang telah ketinggalan jaman.

Demokrasi representatif memiliki kontradiksi dalam istilahnya sendiri.
Tak ada seorangpun yang dapat merepersentasikan kekuatan dan ketertarikan yang anda miliki-anda hanya akan mendapat kekuatan dengan melakukan sesuatu, dan anda hanya akan dapat tahu apa ketertarikan anda dengan cara melibatkan diri secara langsung. Para politisi telah mengembangkan karirnya dengan mengklaim bahwa mereka merepresentasikan orang lainnya seakan bahwa kebebasan dan kekuatan politis dapat diselenggarakan oleh seorang wakil. Sejujurnya, saat ini, para wakil tersebut telah menjadi seorang yang mewakili dirinya sendiri juga-kelas politisi itu sendiri, selalu.

Pemilu adalah ekspresi dari ketidakberdayaan kita: sebuah ijin yang kita berikan yang menyatakan bahwa kita hanya dapat mengerti kemampuan masyarakat kita melalui orang lain yang nantinya akan mewakili kita. Saat kita membiarkan para politis tersebut menyediakan alternatif bagi kita, maka hal tersebut tak ada bedanya dengan saat kita menyerahkan urusan teknologi pada para teknokrat, urusan kesehatan pada dokter, tata kota yang kita tinggali pada ahli planologi; kita akan berakhir dengan terus hidup di sebuah dunia yang asing bagi diri kita sendiri, yang walaupun tenaga kita yang menciptakannya, kita tetap tidak mengerti apa yang sedang kita lakukan selain hanya menunggu diberitahu oleh para pemimpin dan para spesialis tentang apa saja kemungkinan yang kita miliki.

Faktanya adalah bahwa kita tak perlu memilih di antara beberapa kandidat Presiden, merk soft-drink, channel televisi, koran, ataupun ideologi politik. Kita dapat membuat keputusan kita sendiri sebagai individu dan komunitas, kita dapat membuat makanan enak kita sendiri, membuat koalisi sendiri, media sendiri, hiburan sendiri, kita dapat menciptakan pendekatan individual kita sendiri pada hidup yang memberi kita semua keunikan masing-masing. Berikut ini adalah tentang bagaimana cara untuk mulai melakukannya...

Konsensus.
Secara radikal, demokrasi partisipatoris juga dikenal sebagai demokrasi konsensus, sesuatu yang di belahan dunia lain telah dikenal cukup akrab dan bahkan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, dari komunitas adat di Amerika Latin hingga sel-sel aksi politis postmodern ("grup afiniti") di berbagai negara Dunia Pertama ataupun pertanian organik yang dioperasikan secara kooperatif di Australia. Demokrasi konsensus adalah sebuah bentuk demokrasi langsung, yang sangat kontras berbeda dengan demokrasi representatif: para partisipan selalu terlibat dalam pengambilan keputusan harian, melalui desentralisasi ilmu pengetahuan dan kekuasaan, menjadi mungkin bagi mereka untuk mengambil kontrol atas hidup mereka sehari-hari. Tidak seperti demokrasi yang mengandalkan aturan mayoritas, nilai-nilai yang dianut demokrasi konsensus membutuhkan keterlibatan setiap individu secara setara; apabila ada satu saja orang yang tidak setuju dengan sebuah keputusan yang diambil, maka adalah tugas semuanya untuk menemukan solusi baru yang dapat diterima oleh semua. Demokrasi konsensus tidak menuntut agar seseorang menerima kekuatan orang lain atas hidupnya, walaupun hal ini juga bukan berarti bahwa tiap orang tidak membutuhkan orang lain; walaupun dalam soalan efisiensi, hal seperti ini amatlah lamban, tetapi dalam segi kebebasan dan itikad baik, hal tersebut akan mendapat point sangat tinggi. Demokrasi konsensus tidak memaksa orang untuk mengikuti pemimpin ataupun standarisasi nilai, melainkan membiarkan orang lain untuk memiliki tujuannya dan cara pencapaiannya sendiri.

Otonomi.
Agar demokrasi langsung dapat menjadi berarti, orang-orang harus memiliki kontrol atas hidup yang berkaitan dengan dirinya maupun sekelilingnya. Otonomi adalah sekedar ide dimana tak ada seorangpun yang lebih mampu menentukan bagaimana dirimu harus hidup selain dirimu sendiri, bahwa tak seorangpun dapat menentukan pilihan tentang apa yang harus engkau lakukan untuk mengisi waktumu dan potensi yang kau miliki-ataupun menentukan bagaimana lingkungan sekitarmu harus dibentuk. Jangan kacaukan hal tersebut dengan "kemerdekaan"-dalam kenyataannya tak ada seorangpun yang benar-benar merdeka dan mandiri sejak kehidupan kita segala sesuatunya saling tergantung dengan sesama kita (Kita terbiasa bekerja dan menyebut diri kita mandiri, padahal kita tetap membutuhkan peran orang lain untuk membuat kita dapat hidup mandiri)-kedua hal tersebut hanyalah sebuah mitos individualis yang membuat kita menolak mengakui perlunya keberadaan komunitas. Glamorisasi istilah "mandiri" dalam masyarakat kompetitif menegaskan sebuah penyerangan terhadap siapapun yang tak mau melakukan pengeksploitasian atas orang lain demi kepentingannya sendiri. Sebagai jelasnya pada istilah otonomi dan mandiri seperti yang sering disebut-sebut oleh media massa dan pemerintah (seperti dalam kata "Otonomi Daerah"), otonomi yang dimaksud adalah sebuah hubungan saling ketergantungan yang bebas diantara sesama kita yang berbagi konsensus, dengan siapa kita bertindak secara bebas demi pembangunan self-manajemen atas seluruh aspek kehidupan.

Otonomi adalah sebuah anti-tesis dari birokrasi (sebuah hal yang jelas membuat kata "Otonomi Daerah" tampak sebagai sebuah lelucon). Agar otonomi dapat terwujud, segala aspek komunitas, dari teknologi hingga sejarah harus diorganisir ulang agar dapat diakses oleh siapapun juga; dan juga agar berhasil, semua orang harus menggunakan kesempatan akses tersebut.

Grup-grup otonomus dapat dibentuk tanpa perlu sebuah agenda yang jelas, selama sesama anggotanya mendapat keuntungan dari partisipasi anggota lainnya. Beberapa grup dapat mengandung kontradiksinya sendiri, sebagaimana secara individu kita semua juga seperti itu, tetapi masih dapat bekerja bersama-sama. Momen-momen dimana kita semua harus diseragamkan di bawah satu bendera, satu model dan satu pola sudah berlalu. Kita harus mencoba memasuki dunia baru.
Grup-grup otonomus harus mengambil sikap yang jelas melawan tekanan dari luar (maupun dari dalam) yang menyatakan bahwa tak ada hak bagi individu untuk menentukan hidupnya sendiri, atau mereka yang berusaha mengilfiltrasi otonomi dan konsensus dengan melakukan penghancuran struktur. Kekuasaan atas otonomi harus dilakukan dengan cara apapun, termasuk penghancuran struktur status quo dan menggantikannya dengan struktur yang lebih demokratis secara radikal. Sebagai contohnya: sangat tidak cukup saat kita menghancurkan jalanan karena menganggap pembangunan jalan hanya menimbulkan lebih banyak lagi polusi, tetapi tidak menyediakan alternatif seperti menyediakan transportasi gratis misalnya. Atau contoh lainnya, kita tak cukup sekedar mengkritik pola pendidikan di Indonesia tanpa mencoba membentuk sebuah sekolah dengan pola pendidikan yang kita inginkan, tak perlu sekolah besar, cukup sebuah sekolah kecil non-formal yang menggunakan pola pengajaran yang progresif.

Aksi langsung.
Otonomi juga berarti aksi langsung, tidak menunggu proposal untuk disetujui oleh "jalur legal" yang selalu berarti memakan waktu yang berkepanjangan dan dana yang mengalir terus menerus tanpa jelas kemana akhirnya. Bangun jalur kita sendiri. Kalau kita ingin agar orang-orang yang kelaparan mendapatkan makanan, jangan berikan uangmu pada institusi legal yang biasanya membutuhkan biaya-biaya administrasi yang akhirnya uangmu akan habis untuk keperluan birokratis mereka, cari dimana sumber makanan murah dan cukup bergizi, kumpulkan dan bagikan langsung pada mereka yang mengalami kelaparan. Kalau kamu membutuhkan makanan murah, jangan tunggu sampai ada orang kaya memberimu makanan ataupun mencari tanah kosong dan meminta ijin pada insitusi legal untuk ijin penggunaan lahan-hal itu hanya akan memakan waktu bertahun-tahun dan jalur berbelit-belit dan malahan akan menghabiskan dana terbatas yang kamu miliki. Cari lahan-lahan kosong, tanami dengan tanaman pangan yang mampu tumbuh di tempat tersebut, pelihara dan jaga. Lebih baik lagi, temukan beberapa orang untuk bekerja sama memeliharanya dan nikmati hasilnya bersama-sama. Apabila ada tuan tanah berusaha meratakan lahan panganmu hanya karena kamu dianggap mempergunakan lahan kosong, pertahankanlah bersama-sama. Para tuan tanah tersebut terlihat benar hanya karena mereka memiliki uang yang jauh lebih banyak daripadamu dan hukum memang melindungi mereka, bukan kalian.
Jangan tunggu sebuah ijin legal disahkan untukmu, jangan tunggu mereka yang memegang kekuasaan memberitahu padamu apa yang harus dilakukan dengan hidupmu. Lakukan sesuatu. Saat ini juga.

Federasi tanpa pimpinan.
Grup-grup otonomus independen dapat bekerja sama dalam sebuah federasi tanpa satu kelompokpun memiliki hak lebih untuk memutuskan sesuatu yang merupakan kepentingan semua kelompok. Beberapa struktur sosial seperti demikian tampak merupakan sebuah utopia, tetapi sebenarnya hal-hal seperti itu mampu direalisasikan, tak perlu mengharapkan akan terjadi dalam skala besar, cukup kita lakukan dalam skala kecil terlebih dahulu. Individu-individu yang merasa setuju sepenuhnya dengan keputusan sebuah grup tidak boleh menutup dirinya untuk bergabung juga dengan grup lainnya untuk mengembangkan keinginannya. Agar hal-hal seperti itu dapat berjalan dalam jangka panjang, kita semua perlu untuk tetap mengembangkan sikap kooperatif, saling membutuhkan dan toleransi terhadap generasi yang muncul berikutnya-hal-hal seperti itulah yang kami usulkan saat ini.

Bagaimana menyelesaikan perbedaan masalah tanpa perlu ada keberadaan pemerintah atau pimpinan?
Dalam struktur sosial dimana partisipasi tiap individu diutamakan, maka harus ada sebuah tekanan untuk mendorong pereduksian kebiasaan-kebiasaan yang merusak dan penh kekerasan. Dibutuhkan sebuah pendekatan yang humanis, bukan yang penuh paksaan dan tekanan seperti yang selama ini pemerintah lakukan dengan ancaman penjara dan aparat keamanannya yang terkenal penuh kekerasan-yang hanya memupuk korupsi di antara para petugas hukum dan membenarkan tindakan kriminal yang ada. Mereka yang menolak untuk berintegrasi dengan komunitas manapun, serta menolak bantuan atau arahan dari yang lain jelas akan menemukan sendiri bahwa diri mereka akan tersisihkan dari interaksi manusia; tetapi hal tersebut lebih baik daripada pengasingan di penjara, seperti yang selama ini selalu berlaku dalam sistem sosial kita. Kekerasan seharusnya hanya dijadikan sebuah alat untuk mempertahankan diri bagi sebuah komunitas, bukannya sebuah alasan untuk menghancurkan komunitas lainnya atas pembenaran atas superioritas diri seperti yang selama ini juga selalu terjadi dalam sistem sosial kita. Hal ini juga diaplikasikan bagi kelompok masyarakat ataupun grup otonomus yang belum menjalin hubungan baik dengan komunitas kita.


Ketidaksetujuan yang memasuki tahapan sangat serius dapat diselesaikan dengan berbagai cara seperti reorganisasi grup ataupun pembubaran. Seringkali individu-individu yang tidak dapat lagi mendapatkan kata setuju dalam sebuah grup ataupun komunitas, justru dapat lebih banyak meraih sukses dalam melakukan pola kooperatif yang dilakukan bersama individu lain di luar komunitasnya yang pertama. Apabila konsensus tak dapat ditemukan kata setuju dalam sebuah komunitas, maka grup tersebut perlu untuk dipecah menjadi bagian yang lebih kecil dan saling setuju dalam beberapa aktifitasnya-hal tersebut kadang memang membuat frustrasi, tetapi hal itu tetap lebih baik daripada akhirnya keputusan dipaksakan oleh sebagian individu yang merasa memiliki kekuatan lebih dari yang lainnya. Semua komunitas independen harus selalu berurusan dengan hal tersebut suka atau tidak suka apabila tetap ingin membangun sebuah komunitas yang sehat dan terbuka.

Hidup tanpa memerlukan ijin.
Ini adalah bagian tersulit, tentu saja. Tetapi bukankah kita tidak sedang membicarakan sebuah aturan sosial yang adil? Kita sedang mendiskusikan mengenai sebuah revolusi total atas hubungan manusia sehari-hari-sebuah solusi yang perlu dilakukan untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh spesies kita dewasa ini. Mari hadapi kenyataan-bahwa sebelum kita semua mampu menerapkan hal tersebut, maka tak perlu heran saat kekerasan yang terjadi dalam interaksi kita sehari-hari akan terus berlanjut, dan tak ada sistem ataupun hukum yang dapat menghentikannya dan melindungi kita. Alasan terbaik untuk mentransformasikan demokrasi representatif adalah dengan cara membangun demokrasi konsensus dimana tak akan ada lagi solusi palsu, memang tak ada cara yang mudah untuk menekan angka konflik tanpa justru mencari akar konflik itu sendiri, dan dimana mereka semua yang terlibat harus mulai belajar untuk menjadi eksis tanpa harus merendahkan yang lain, serta mengeliminir kebiasaan-kebiasaan menyebalkan kita sendiri yang justru kita telah lelah hadapi di dunia ini.

Perkembangan pertama yang dapat diraih dalam dunia baru ini dapat ditemukan dalam hubungan pertemanan dan cinta kita, saat kita semua terbebaskan dari hubungan yang dipaksakan, hubungan akan menjadi lebih nyaman. Ambil contoh ini, dan terapkan dalam seluruh masyarakat-ini arti yang dimaksud dengan kalimat "melampaui demokrasi".

Adalah sebuah prospek yang menantang untuk mencapai hal tersebut dari tempat kita berada saat ini… tetapi apa yang menjadi menarik dan indah dari konsensus dan otonomi adalah bahwa kita tidak perlu menunggu terpilihnya sebuah pemerintahan yang adil dan mengerti keinginan kita semua untuk mengaplikasikan konsep di atas-kita dapat mempraktekkannya saat ini juga, dengan orang-orang di sekitar kita dan secara langsung menerima keuntungan dari hal tersebut. Sekali saja hal tersebut dipraktekkan, maka akan terbuka jelas pola hidup tersebut bagi orang lainnya; tak perlu ada khotbah mengenai hal tersebut saat kita mengalami hal tersebut secara langsung. Bentuk grup otonomusmu sendiri, untuk menjawab bahwa tak diperlukan penguasa untuk menentukan jalan hidupmu, dan untuk membentuk lingkungan di sekitarmu yang berarti juga hidupmu sendiri. Tak ada seorang representatifpun yang dapat melakukannya untukmu, seperti juga bahwa sejak dulu tak pernah ada seorang representatifpun yang mampu melakukan sesuatu untuk hidup kita. Dari hal-hal kecil seperti yang kita lakukanlah maka demokrasi yang sesungguhnya akan terbentuk.

Maka, lain waktu seseorang berkata kepada kami: "Berterima kasihlah bahwa kamu telah hidup dalam alam yang lebih demokratis dibanding masa lalu." Kita akan siap menjawabnya: "Tidak cukup sampai disitu." …serta mengetahui dengan jelas apa yang kita inginkan dan kita harus lakukan, dari pengalaman kita sendiri.