PROFILE


Senjata Semesta
An Angel in Nekropolis;
The Kingdom of the Dead

"Jangan kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."
(Matius 10:34)



Quote of the week:
"Smooth ice is paradise, for those who dance with expertise." -Friedrich Nietzsche, 'For Dancers'.

Contact Me through this cyber stuff: senjata_semesta(at)yahoo.com


Add Me @ Friendsta'


Fly With Me To The 'Space'

PREVIOUS POSTS

Joy To The World Menjual Agama Seperti Menjual Hamburger Badai Menari Dengan Sesuka Hatinya Tuhan Ada Karena Diadakan Distopia Dalam Film-Film Holywood Moralitas Seorang Imoral A Sane Revolution Apa Pemilu Itu Demokratis? Seize The Day Hidup dan Bertahan Hidup

ARCHIVES

11/23/2003 - 11/30/2003
11/30/2003 - 12/07/2003
03/07/2004 - 03/14/2004
04/11/2004 - 04/18/2004
05/09/2004 - 05/16/2004
05/16/2004 - 05/23/2004
05/23/2004 - 05/30/2004
06/27/2004 - 07/04/2004
11/07/2004 - 11/14/2004
11/21/2004 - 11/28/2004
11/28/2004 - 12/05/2004
12/05/2004 - 12/12/2004
12/12/2004 - 12/19/2004
12/26/2004 - 01/02/2005
09/18/2005 - 09/25/2005
02/05/2006 - 02/12/2006
03/05/2006 - 03/12/2006
04/01/2007 - 04/08/2007

LINKS

Jaringan Otonomis
New Babylon
Anarkia
Jakarta Anarchist Resistance
Food Not Bombs
Indymedia
Cyber Resistance
Lyssa Belum Tidur
Sayap Ikarus
Madu-Racun

'MASSAGES'



Name
Email
URI
Msg

join my Notify List and get notification email when I update this site:
email:
Powered by NotifyList.com



Users Online @ This Precious Moment

DOWNLOAD


17.12.04

PENDERITAAN & KEINDAHAN


"Rasa sakit adalah yang utama, maka jangan pernah lari darinya." -Marquis de Sade.


Perjalanan hidup seseorang biasanya ditandai dengan keberadaan pengalaman indah dan pengalaman buruk yang mengisi catatan perjalanan hidup seseorang tersebut. Hampir semua orang mengabaikan sisi buruk yang selalu dianggap gelap, penuh penderitaan dan berkonotasi negatif. Pengalaman terburuk selalu dikaitkan dengan keberadaan penderitaan. Dan penderitaan adalah penderitaan, tak ada argumen lain lagi mengenai hal tersebut. Ia menyakitkan. Ia penuh dengan penderitaan. Tetapi ada sebuah kekuatan yang dapat timbul darinya. Kemudian, cari dan kenali kekuatan tersebut, olah, letakkan dalam aktivitasmu, tenangkan dirimu dengannya. Maka engkau akan selalu mencari penderitaan justru untuk berkawan dengan keindahan selamanya.

Tetapi ingat juga, bahwa penderitaan menyakitkan hanya saat engkau merasa takut terhadapnya. Penderitaan hanya menyakitkan karena engkau mengeluhkannya. Ia mengejarmu selalu karena engkau selalu melarikan diri darinya. Jangan kau lari darinya. Jangan kau keluhkan. Jangan pula kau takutkan. Engkau harus belajar mencintainya. Engkau telah mengetahui hal ini, engkau telah cukup mengenal hal ini, jauh di dalam dirimu, terdapat sesuatu hal yang sangat magis, sebuah kekuatan tunggal, sebuah penyelamatan tunggal, dan sebuah kebahagiaan tunggal, sesuatu yang disebut cinta. Maka, cintailah penderitaanmu. Jangan kau lawan, jangan pula kau coba lari darinya. Rasakan, betapa manis ia dalam esensinya, serahkan dirimu kepadanya, jangan pula kau temui dengan penuh keengganan hati. Keenggananmulah yang menyakitkan, tak ada yang lain. Kesedihan bukanlah kesedihan, kematian bukanlah kematian jika engkau tidak membuatnya demikian. Penderitaan adalah sebuah alunan irama musik yang menakjubkan -sebuah momen dimana kau berikan seluruh jiwa ragamu. Tetapi engkau tak pernah mendengarkannya; engkau selalu memiliki suatu musik dan melodi yang berbeda, privat, keras kepala dalam telingamu yang tak akan pernah engkau lepaskan sehingga dengan dirinya, maka musik penderitaan tak akan pernah terdengar harmonis. Dengarkan diriku! Dengarkan aku, dan ingatlah selalu: penderitaan adalah ketiadaan, penderitaan adalah ilusi. Hanya dirimu sendirilah yang menciptakannya, hanya engkau yang telah menyebabkan dirimu sendiri menderita!

Inilah yang kualami -atau yang orang-orang kesepian itu alami. Orang-orang kesepian itu menutup mata dan tersenyum, dan dalam senyuman yang membius inilah maka segala penderitaan dapat dipahami, akan selalu ada penerimaan bagi segala kelemahan, segala cinta, segala kerapuhan.

Tetapi itulah keindahan dan keheningan, senyuman redup penuh penderitaan, dan hal tersebut tak pernah berubah, tetap, serta indah dalam raut wajahnya. Demikianlah pepohonan tampak saat musim gugur, saat daun keemasan terakhir melayang jatuh, ketika bumi menerimanya untuk tetap hidup dalam peleburannya dengan tanah. Itu adalah sebuah derita, sebuah kesedihan, kesedihan yang terdalam -tetapi tak ditemukan keberadaan perlawanan, tak ada penolakan. Ia adalah persetujuan, pendaftaran, kepatuhan. Ia adalah kekuatan pengetahuan dan persetujuan tanpa pertanyaan. Orang-orang yang kesepian mengorbankan dirinya dan memuji pengorbanan tersebut. Mereka menderita dan mereka tersenyum. Mereka tidak menguatkan hati dan karenanya ia bertahan hidup, demikianlah mereka menjadi abadi. Mereka menerima kenikmatan, kesukaan dan cinta dan memberikannya, memberikannya kembali -tidak pada seorang asing, melainkan kepada kekuatan garis hidup yang telah menjadi bagian dari dirinya. Sebagaimana pikiran meresap ke dalam ingatan dan isyarat tenggelam kepada sisanya, maka mereka yang dicinta oleh orang-orang yang kesepian bersama seluruh yang dimilikinya akan meresap, melebur bersama penderitaan -tidak hilang, melainkan mengembara kepada kedalaman jiwanya. Penderitaan melenyap, tetapi tidak dibunuh. Ia tertransformasikan, tidak terhancurkan. Ia akan kembali pada kedalaman, merasuk ke dalam dunia dan diri sang penderita. Ia telah hidup dalam sebuah esensi kehidupan itu sendiri, yang sempurna dan begitu penuh.