|
PROFILE

Senjata Semesta
An Angel in Nekropolis;
The Kingdom of the Dead
"Jangan kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."
(Matius 10:34)
Quote of the week:
"Smooth ice is paradise, for those who dance with expertise." -Friedrich Nietzsche, 'For Dancers'.
Contact Me through this cyber stuff: senjata_semesta(at)yahoo.com
Add Me @ Friendsta'
Fly With Me To The 'Space'
PREVIOUS POSTS
A Sane Revolution
Apa Pemilu Itu Demokratis?
Seize The Day
Hidup dan Bertahan Hidup
Tiga Babi Kecil
Kekasihku dan Aku
Ajarkan Tuhan Menulis Puisi
As I Walk Through the Music
Thank You
Ibu
ARCHIVES
11/23/2003 - 11/30/2003
11/30/2003 - 12/07/2003
03/07/2004 - 03/14/2004
04/11/2004 - 04/18/2004
05/09/2004 - 05/16/2004
05/16/2004 - 05/23/2004
05/23/2004 - 05/30/2004
06/27/2004 - 07/04/2004
11/07/2004 - 11/14/2004
11/21/2004 - 11/28/2004
11/28/2004 - 12/05/2004
12/05/2004 - 12/12/2004
12/12/2004 - 12/19/2004
12/26/2004 - 01/02/2005
09/18/2005 - 09/25/2005
02/05/2006 - 02/12/2006
03/05/2006 - 03/12/2006
04/01/2007 - 04/08/2007
LINKS
Jaringan Otonomis
New Babylon
Anarkia
Jakarta Anarchist Resistance
Food Not Bombs
Indymedia
Cyber Resistance
Lyssa Belum Tidur
Sayap Ikarus
Madu-Racun
'MASSAGES'
Users Online @ This Precious Moment
DOWNLOAD
 |
MORALITAS SEORANG IMORAL
Beberapa tahun lalu, beberapa kawanku benar-benar bergairah, teragitasi dengan beberapa pertanyaan mendasar mengenai jalan hidup yang mereka pilih.
'Aku disebut seorang imoral!', ujar salah seorang nihilis muda itu kepadaku, untuk kemudian menterjemahkan pemikirannya ke dalam sebuah bentuk aksi yang tak memberinya waktu untuk beristirahat sedikitpun juga.
'Aku memang imoral, kenapa tidak? Hanya karena Kitab Suci kita mengajarkan kita moralitas? Bukankah Kitab Suci adalah sekumpulan tradisi Timur Tengah, yang dikumpulkan menjadi satu sebagaimana puisi-puisi Homer, atau juga puisi-puisi Rimbaud ataupun legenda Sangkuriang? Apakah aku harus kembali lagi menjadi seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang di Timur Tengah puluhan abad lampau?' 'Kenapa juga aku harus menjadi bermoral hanya karena Kant menulis tentang sebuah komando yang datang dari kedalaman diriku, yang mengatakan padaku apa yang harus dilakukan apa yang tidak?'
'Ataukah mungkin karena pendidikanku sejak masa kanak-kanak? Karena ibuku mengajarkan moralitas kepadaku? Apakah lalu aku harus pergi dan bersujud di mesjid, menghargai kepala negara, hanya karena ajaran ibuku, ibuku yang konservatif tetapi baik hati, telah mengajarkan kepadaku berbagai macam omong kosong?'
'Aku penuh dengan prasangka, seperti juga orang-orang lain. Tapi aku berusaha untuk menghilangkan prasangka tersebut dari dalam diriku! Walau imortalitas sangatlah tidak menyenangkan, aku akan tetap mendorong diriku untuk menjadi imoral, sebagaimana saat aku kecil aku memaksakan diriku untuk tidak lagi merasa takut pada kegelapan, pada kuburan, hantu dan orang-orang yang telah mati. Segala sesuatu yang diajarkan padaku untuk kutakuti.'
'Aku akan dikatakan seorang imoral apabila menolak moralitas yang disalahgunakan oleh para pemuka agama; tapi aku akan tetap melakukannya, dimana hal itu hanyalah untuk melindungi diriku dari kemunafikan yang dipaksakan padaku atas nama sebuah kata yang dianggap telah menciptakan nilai-nilai moralitas.'
Begitulah kawan-kawanku mulai mematahkan hubungannya dengan prasangka-prasangka lama, menggulung banner-banner religius yang mereka genggam sebelumnya: untuk kemudian berdiri untuk mengakui bahwa tak ada kekuasaan apapun, bagaimanapun bentuknya, dan mengakui bahwa ketiadaan prinsip yang absolut untuk diikuti dan dibela hingga mati.
Perlu ditambahkan, bahwa setelah melemparkan ke dalam keranjang sampah seluruh ajaran-ajaran guru mereka di sekolah dan membakar seluruh sistem moralitas, kawan-kawanku mulai mengembangkan dalam diri mereka sebuah nukleus moralitas, yang dalam diri mereka menjadi lebih superior daripada apa yang telah dipraktekkan oleh orang tua mereka di bawah kontrol pemuka agama, nilai-nilai publik, aturan tradisi.Ambil contoh pada seorang karyawan yang menipu sesama karyawan agar dapat membeli perhiasan bagi isteri atau kekasihnya. Ambil contoh pada siapapun juga. Ia yang menuruti hanya impuls-impulsnya sendiri. Ia yang mendapatkan kepuasan dari pelariannya yang justru mengakibatkan masalah baginya.
Kita hampir selalu merasa risih untuk menyamakan para pembuat onar di atas tadi dengan mereka yang mengorbankan seluruh eksistensinya demi membebaskan yang tertindas. Setidaknya demikianlah bagi kemanusiaan yang diyakini banyak orang, yang merupakan hasil dari dua bentuk kehidupan; sebagaimana juga saat kita merasa terkategorikan oleh satu sisi dan tak termasuk sama sekali pada kategori sisi lainnya.Dan pada akhirnya, mari kita melihat pada seorang martir anarkis yang hendak dihukum gantung sekitar dua abad lampau karena dianggap menghina aturan gereja—sebuah pertanyaan diajukan padanya apakah ia mau meninggalkan keyakinannya sebagai seorang atheis untuk kembali kehadirat Allah sehingga ia akan dibebaskan. Dalam hidupnya, dalam sebuah perjuangan seperti saat Daud melawan Goliath, ia justru menemukan kenikmatan tertingginya. Apapun yang berada di luar perjuangannya, seluruh kenyamanan dari masyarakat borjuis, menjadi sangat tak berarti, sangat melelahkan, patut dikasihani! Para pengikut gereja berteriak marah ata penolakannya: 'Engkau tidak pantas hidup! Engkau tidak berguna!' dan sang martir menjawab: 'Aku telah hidup.'
Agen Khusus KKK, Eko Nurcahyo, 28 September 2003.
Penghitam Langit at 6:25 PM |
|