PROFILE


Senjata Semesta
An Angel in Nekropolis;
The Kingdom of the Dead

"Jangan kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."
(Matius 10:34)



Quote of the week:
"Smooth ice is paradise, for those who dance with expertise." -Friedrich Nietzsche, 'For Dancers'.

Contact Me through this cyber stuff: senjata_semesta(at)yahoo.com


Add Me @ Friendsta'


Fly With Me To The 'Space'

PREVIOUS POSTS

Moralitas Seorang Imoral A Sane Revolution Apa Pemilu Itu Demokratis? Seize The Day Hidup dan Bertahan Hidup Tiga Babi Kecil Kekasihku dan Aku Ajarkan Tuhan Menulis Puisi As I Walk Through the Music Thank You

ARCHIVES

11/23/2003 - 11/30/2003
11/30/2003 - 12/07/2003
03/07/2004 - 03/14/2004
04/11/2004 - 04/18/2004
05/09/2004 - 05/16/2004
05/16/2004 - 05/23/2004
05/23/2004 - 05/30/2004
06/27/2004 - 07/04/2004
11/07/2004 - 11/14/2004
11/21/2004 - 11/28/2004
11/28/2004 - 12/05/2004
12/05/2004 - 12/12/2004
12/12/2004 - 12/19/2004
12/26/2004 - 01/02/2005
09/18/2005 - 09/25/2005
02/05/2006 - 02/12/2006
03/05/2006 - 03/12/2006
04/01/2007 - 04/08/2007

LINKS

Jaringan Otonomis
New Babylon
Anarkia
Jakarta Anarchist Resistance
Food Not Bombs
Indymedia
Cyber Resistance
Lyssa Belum Tidur
Sayap Ikarus
Madu-Racun

'MASSAGES'



Name
Email
URI
Msg

join my Notify List and get notification email when I update this site:
email:
Powered by NotifyList.com



Users Online @ This Precious Moment

DOWNLOAD


12.11.04

DISTOPIA DALAM FILM-FILM HOLYWOOD


Saat 'Minority Report' dirilis, terdapat ketertarikan yang diperbaharui tentang bagaimana dunia akan terjadi pada suatu hari nanti. Melalui sejarah perfilman, para pembuat film tidak hanya terkooptasi oleh ide tentang apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi juga soal bagaimana kita dapat memerangi situasi-situasi terburuk yang kita hadapi saat ini. Sinema selama puluhan tahun, telah memunculkan tak hanya memunculkan para hero dan pemimpin, tetapi juga masa depan yang distopis.

Yang pertama dan mungkin masih menjadi yang terhebat, adalah 'Metropolis' karya Fritz Lang, yang memunculkan setting tahun 2026, seratus tahun dari film itu dibuat. Kota Metropolis adalah kota yang sesak, dipenuhi baik oleh orang-orang elit yang berkedudukan istimewa maupun oleh sejumlah kelas pekerja yang hidup di bawah tanah dan menggerakan mesin-mesin, membuat Metropolis yang berada di atas tanah terus berjalan dengan baik. Memang para pekerjalah yang menggerakkan mesin, tetapi mesin-mesin itulah yang menentukan hidup para pekerja.

Motif dimana para pekerja terintegrasi ke dalam mekanisme sistem digaungkan kembali oleh film fiksi ilmiah terbaru dewasa ini: 'The Matrix Trilogy'. Di film ini, manusia digunakan sebagai sumber tenaga bagi mesin yang mulai menguasai dunia. tapi bagaimanapun juga, dalam distopia dari Fritz Lang, para pekerja selalu punya keinginan untuk kabur menuju kebebasannya. Sementara dalam berbagai film distopis modern, mayoritas tak meyakini lagi akan adanya jalan untuk melarikan diri, kecuali beberapa film saja. Misalnya, Jedi yang memimpin pertempuran dalam berbagai episode 'Star Wars', melawan kekuasaan Empire.

Masih ada film-film lain yang juga menyoroti hal ini. Dalam film 'THX1138' karya George Lucas, karakter yang dijadikan judul film tersebut adalah satu dari sekian banyak pekerja yang tak bernama dan tak berwajah dalam koloni di bawah tanah yang besar. Ia sadar bahwa kabur bukanlah sesuatu yang tak mungkin, dan selama ini yang menghalangi niat untuk bebas hanyalah ketakutan dari para pekerja itu sendiri. THX1138 adalah seorang pekerja biasa yang tak memiliki kekuatan super atau kemampuan melebihi rata-rata. Tetapi biarpun demikian, ia mampu melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi dan bagaimana ia mulai berdiri melawan kekuasaan sistem—walaupun dalam kasus ini ia melakukannya demi usaha bertahan hidup dirinya sendiri bersama kekasihnya. (Sebagaimana dalam banyak film-film distopis, cinta dan kemanusiaan dari individu akan dikontraskan dengan kebencian dan represi negara).

Dalam film 'Antz', distopia dari masyarakat yang super kapitalistik ditransfer ke dalam sebuah setting yang sangat nyata dan mudah ditemukan sehari-hari, koloni semut. Disini, Z-4195, sang tokoh utamanya, adalah satu dari ribuan semut pekerja, yang digerakkan oleh rasa cintanya kepada seorang putri semut dan dibangkitkan oleh alienasi atas dirinya, ia mendorong para pekerja dan tentara untuk menggulingkan pemimpinnya setelah ia sadar bahwa ia tak mungkin dapat membebaskan dirinya seorang diri. Sebagaimana yang dikatakan sendiri dalam Antz: 'Adalah para pekerja yang mengontrol proses produksi.'

Tetapi sebenarnya tidak hanya cinta yang memberikan inspirasi bagi para hero dalam film, kadang justru keadaan personalnya sendiri. Film-film yang dibuat berdasarkan karya Philip K Dick adalah contoh yang jelas untuk hal ini. Ambil 'Minority Report' sebagai contohnya, dimana seseorang membuat perubahan. Ia memerangi ide tentang nasib dan penentuan masa depan yang dapat dideterminasikan karena ia dipaksa untuk melakukan hal tersebut—atau ia menyerah menerima status quo dan dipenjarakan. Atau dalam film 'Total Recall' (berdasarkan novel karya Dick berjudul 'We Can Remember It For You Wholesale’) dimana seorang individu melakukan pencarian akan dirinya dan nilai kemanusiaan masa lalu, dibandingkan menerima siksaan dan pemrograman yang ditawarkan. Kedua film tersebut memperlihatkan sebuah motivasi yang sangat berbeda yang muncul dari penderitaan dan situasi protagonis dari dirinya sendiri. Dorongan akan kebebasan dalam karakter dalam karya-karya Dick jauh lebih kuat, dibandingkan dorongan akan cinta.

Mungkin distopia yang paling efektif dan menghebohkan dalam film, bagaimanapun juga, adalah yang diperlihatkan dalam masyarakat saat ini. Drama Realis Sosialis seperti film dari Ken Loach, 'Ken', film-film Dogme 95 seperti 'Dancer In The Dark' dan film-film anti-perang seperti 'Thin Red Line', mempotret distopia yang tidak hanya realistik, tetapi juga dapat ditemukan dalam kehidupan harian. Disana pengkontrasan antara distopia dan perjuangan untuk melawannya sangat kentara. Dalam 'Thin Red Line', keindahan alam dan keluguan dikontraskan dengan kengerian akan perang, sementara karakter yang diperankan oleh Bjork dalam 'Dancer In The Dark' menantang dan mengalahkan pra-determinasi yang mengatakan bahwa sebuah kerusakan genetik akan menyebabkan anaknya mengalami kebutaan.

Tayangan-tayangan tersebut dapat mengarahkan situasi-situasi tertentu pada kita, tapi hanya dalam film-film dramalah situasi menjadi tampak sangat jelas dan nyata. Dalam 'Brassed Off', distopia adalah sebuah kenyataan dalam kota-kota pertambangan pasca-Teatcher. Kekontrasan yang tampak diberikan oleh para tokoh sentral dengan kecintaannya pada musik, tetapi perlawanan balik mereka diinspirasikan oleh kemiskinan. Penggunaan alat-alat musik yang diangkat dalam 'Brassed Off' dan 'The Full Monty', menyimbolkan sebuah penekanan atas kolektifitas, bukan sekedar individual; sesuatu yang berbeda dengan rata-rata film lain. Melalui beberapa dekade yang telah lampau, film-film seperti 'Brassed Off', 'The Full Monty' dan 'Billy Elliot', telah membangkitkan drama yang memperlihatkan distopia atas kekontrasan, inspirasi dan perlawanan balik, sebuah distopia dimana kita tinggal, sebuah distopia dimana kita dapat mengubahnya.

Agen Khusus KKK, Eko Nurcahyo, 28 Januari 2004.