PROFILE


Senjata Semesta
An Angel in Nekropolis;
The Kingdom of the Dead

"Jangan kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."
(Matius 10:34)



Quote of the week:
"Smooth ice is paradise, for those who dance with expertise." -Friedrich Nietzsche, 'For Dancers'.

Contact Me through this cyber stuff: senjata_semesta(at)yahoo.com


Add Me @ Friendsta'


Fly With Me To The 'Space'

PREVIOUS POSTS

Marilah Kita Saling Jatuh Cinta... Ode to Beer Zaman Modern Alive Semesta Penderitaan dan Keindahan Joy To The World Menjual Agama Seperti Menjual Hamburger Badai Menari Dengan Sesuka Hatinya Tuhan Ada Karena Diadakan

ARCHIVES

11/23/2003 - 11/30/2003
11/30/2003 - 12/07/2003
03/07/2004 - 03/14/2004
04/11/2004 - 04/18/2004
05/09/2004 - 05/16/2004
05/16/2004 - 05/23/2004
05/23/2004 - 05/30/2004
06/27/2004 - 07/04/2004
11/07/2004 - 11/14/2004
11/21/2004 - 11/28/2004
11/28/2004 - 12/05/2004
12/05/2004 - 12/12/2004
12/12/2004 - 12/19/2004
12/26/2004 - 01/02/2005
09/18/2005 - 09/25/2005
02/05/2006 - 02/12/2006
03/05/2006 - 03/12/2006
04/01/2007 - 04/08/2007

LINKS

Jaringan Otonomis
New Babylon
Anarkia
Jakarta Anarchist Resistance
Food Not Bombs
Indymedia
Cyber Resistance
Lyssa Belum Tidur
Sayap Ikarus
Madu-Racun

'MASSAGES'



Name
Email
URI
Msg

join my Notify List and get notification email when I update this site:
email:
Powered by NotifyList.com



Users Online @ This Precious Moment

DOWNLOAD


6.4.07

Marilah Kita Saling Jatuh Cinta...


"Tuhan mencintai burung, maka Tuhan menciptakan pohon agar burung tersebut mendapat tempat bermain yang bebas. Tapi manusia merasa mencintai burung, maka manusia menciptakan sangkar yang membuat burung tersebut tak dapat terbang dengan bebas."



Jatuh cinta adalah sebuah aksi paling pokok dari sebuah revolusi, dari perlawanan terhadap kemapanan saat ini, keterbatasan sosial dan kultural, serta ketiada artian dunia ini.

Cinta mentransformasikan dunia. Dimana sang kekasih sebelumnya merasakan kebosanan, kini dengan cinta dia merasakan nafsu dan gairah. Disaat sebelumnya dia merasa puas dengan keberadaan dunia saat ini, kini dia merasa sangat bergairah dan berusaha untuk beraksi menuntut hak-haknya. Dunia yang sebelumnya terlihat kosong dan membosankan, kini menjadi dunia dengan penuh arti dan makna, penuh dengan berbagai resiko dan larangan, dengan keagungan dan bahaya. Hidup bagi seorang kekasih adalah sebuah anugerah, sebuah petualangan dengan taruhan kemungkinan yang tertinggi; setiap momen adalah sebuah kenangan, patah hati dan kesedihan menjadi sebuah noda yang memperindah kecantikan dan kegairahan hidup. Saat merasakan jatuh cinta, seorang kekasih yang sebelumnya merasa kehilangan arah, teralienasi dan kehilangan pegangan hidup akan mulai menemukan dan mengerti apa keinginan pribadinya. Secara cepat eksistensinya akan sangat berpengaruh pada dirinya; menjadi sangat berharga dan bahkan menjadi sangat agung dan mulia bagi dirinya. Gairah yang membara adalah sebuah antidot yang akan mengobati kasus kekecewaan terburuk dan akan menarik diri dari ketertundukan.

Cinta membuat segala hal menjadi mungkin bagi individual untuk berkomunikasi dengan yang lain dalam cara yang sangat berarti --cara yang membuatnya untuk meninggalkan sangkarnya dan mengambil resiko spontanitas dan melawan tata krama secara bersamaan, untuk saling mengenal dalam cara yang kadang tak terpikirkan sebelumnya. Karenanya cinta juga membuat segala hal menjadi mungkin bagi kekasih untuk saling memperhatikan dan peduli akan kebutuhan sesamanya dengan menggunakan perasaan terdalamnya atas kesadarannya sendiri, bukan karena atas suruhan dan petunjuk dari kitab agama atau doktrinasi kaum kanan. Dan dalam saat yang bersamaan, hal tersebut membuat sang kekasih keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari yang memisahkan diri kita semua dari kehidupan sosial dan kemanusiaan. Sang kekasih juga akan membuat batas sendiri dari alienasi sosial dan semua orang yang terlibat di dalamnya untuk kemudian hidup seakan dia berada di dunia penuh warna yang jelas berbeda dengan orang lain yang menjalani hidup tanpa warna dalam kondisi alienasi sosial saat ini.

Dalam konteks ini cinta adalah sebuah tindakan subversif, karena cinta menjadi sebuah ancaman terhadap pemapanan aturan-aturan dalam kehidupan modern. Produktifitas kerja harian yang membosankan yang disosialisasikan dengan berbagai etika modern tak akan ada artinya lagi bagi mereka yang sedang jatuh cinta, karena bagi sang kekasih kekuatan yang dianggap lebih penting akan menjadi petunjuk bagi dirinya sendiri bukannya petunjuk yang mengacu kepada tradisi atau etika yang dimapankan oleh sistem. Strategi pemasaran yang disusun berdasarkan keapatisan atau ketidak nyamanan sosial agar dapat menjual produknya yang merupakan inti dari sistem komoditi yang menjalankan roda ekonomi saat ini, tak akan ada artinya bagi sang kekasih. Dunia hiburan yang didesain agar massa mengkonsumsi sesuatu dengan pasif, yang berdasarkan kepada sisnisme dan keimpotenan para pemirsanya, tidak lagi akan menarik hati sang kekasih.

Tak ada tempat bagi para kekasih yang bergairah dan romantis dalam dunia saat ini, baik dalam dunia bisnis maupun dalam dunia pribadi. Bagi sang kekasih akan sangat lebih berharga untuk berjalan-jalan di jalanan kota maupun pantai untuk sekedar menatap bulan purnama di langit atau sekedar memandangi bintang dan awan bersama pasangannya daripada harus berkutat dengan soal-soal kalkulus atau ujian atau wawancara kerja atau juga menjual sebuah produk --yang bagi dunia modern hal-hal tersebut akan sangat berguna bagi masa depan perekonomian-- dan apabila sang kekasih memutuskan untuk mendahulukan hal yang dianggapnya lebih berharga tersebut, dia akan melakukannya dengan segenap keberanian untuk menghadapi resiko dari tindakannya tersebut. Dia tahu dengan pasti bahwa menerobos daerah yang ditutup dan bercinta dibawah hamparan bintang di langit akan menjadi sebuah momen indah yang tak terlupakan daripada menghabiskan waktu menonton acara di televisi yang penuh dengan iklan dan doktrinasi. Karenanya, cinta menjadi sebuah ancaman bagi ekonomi yang memapankan sifat konsumtif yang menghipnotis massa, dengan berbagai produknya dengan melalui iklan di media massa, sehingga publik tak lagi membeli sebuah produk karena kebutuhannya akan produk tersebut.

Dengan demikian maka cinta menjadi sebuah ancaman juga bagi sistem politik, dimana akan menjadi semakin sulit untuk mempengaruhi seorang laki-laki untuk mengabdikan dirinya --untuk berjuang dan berkorban-- pada abstraksi negara dan sistemnya. Seorang laki-laki akan memilih untuk hidup dan mati demi kekasihnya daripada harus hidup dan mati demi negaranya. Cinta juga akan menjadi ancaman bagi segi kultural dalam segala bentuknya, karena sang kekasih akan memilih untuk menomor duakan tradisi dan segi kultural dari sistem negara yang mendominasi dan mengekang segala gerak massa dibandingkan dengan kekuatan perasaan yang dimiliki oleh dirinya dan menuntun jalannya sendiri.

Cinta juga menjadi ancaman bagi masyarakat itu sendiri. Cinta yang penuh gairah selalu ditentang oleh masyarakat borjuis karena hal itu merupakan sebuah bahaya bagi kestabilan kemapanan sosial yang menguntungkannya. Cinta memperbolehkan untuk membuat kejujuran, keterbukaan dan segala ketransparanan, untuk kemudian meletakannya pada kekuatan emosi dan membuka rahasia-rahasia dimana laki-laki dan perempuan yang tunduk oleh sistem tak akan berani untuk mengatakannya. Sang kekasih tak akan dapat berbohong kepada respon seksual dan emosionalnya; situasi-situasi tertentu akan mempesonakan dan menggairahkan baginya tak peduli apakah dia berusaha menolaknya atau tidak, apakah hal tersebut dianggap sopan atau tidak, apakah diperbolehkan oleh tradisi dan dogmatisme agama atau tidak. Seseorang tidak akan dapat menjadi seorang kekasih dan bertanggung jawab terhadap sistem masyarakat komoditas dalam waktu yang bersamaan; karena cinta akan membuat sang kekasih tidak lagi mempedulikan apakah dia berdedikasi dan dianggap penuh respek atau tidak. Cinta yang sesungguhnya tidaklah bertanggung jawab terhadap sistem komoditas saat ini, melainkan penuh dengan gairah dan gelora pemberontakan, tak peduli apakah hal tersebut dianggap pemberani ataukah pengecut oleh sistem, tak peduli apakah hal tersebut akan berbahaya bagi dirinya maupun bagi tatanan sistem masyarakat di sekitarnya, karena dia hanya akan melayani satu tujuan: gairah cinta yang membuat jantung seseorang berdetak lebih kencang. Cinta melupakan segalanya, baik itu nilai kesopanan, ketertundukan maupun rasa malu. Cinta mendorong baik laki-laki maupun perempuan kedalam heroisme yang sejajar dalam saat yang bersamaan dengan berbagai sikap anti-heroisme --untuk mendefinisikan keberanian untuk saling melindungi siapapun atau apapun yang dikasihinya.

Sang kekasih akan berbicara mengenai nilai moralitas dan bahasa emosional yang berbeda daripada yang dikembangkan dan dimapankan oleh kelas borjuis. Kelas borjuis hanya mengenal satu kata: kepatuhan, dan menolak kegairahan akan sesuatu yang baru dan mengancam kelangsungan posisinya. Kelas borjuis memapankan pemikiran untuk selalu tunduk dan diam dalam kesunyian dan penerimaan akan tradisi sosial yang telah diset sedemikian rupa bagi diri undividu dalam masyarakat, melalui keluarga, guru, pekerjaannya, negaranya, adat istiadatnya tanpa pernah ada kemauan untuk memperhatikan kebutuhan dan keinginan individunya sendiri. Tanpa keberadaan gairah yang menggelora dalam dirinya, seseorang tak akan memiliki kriteria sendiri yang memisahkan mana yang baik dan buruk menurut dirinya sendiri, yang dengan demikian maka konsekwensinya adalah menerima segala dogma ataupun doktrin yang dicekokkan kepadanya sepanjang hidupnya di dunia ini. Berapa banyak laki-laki dan perempuan tidak pernah melihat kenyataan bahwa mereka memiliki banyak kesempatan untuk memilih nasibnya sendiri, jalan hidupnya sendiri, lalu kemudian memilih untuk mengikuti saja kemana arah hukum dan aturan dijalankan oleh mereka yang memiliki kekuasaan hanya karena mereka merasa tak lagi memiliki ide lain tentang apa yang harus dilakukan? Sang kekasih yang jatuh cinta, tak lagi kebingungan untuk memilih jalan diluar jalur yang telah diajarkan oleh sistem, tak lagi memerlukan prinsip yang dimapankan untuk kepentingan pabrik, karena gairah dan hasratnya telah mendefinisikan bagi dirinya sendiri apa yang baik dan apa yang buruk, dan membiarkan hatinya sendiri yang menentukan kemana dia harus menjalani hidupnya. Sang kekasih akan dapat melihat keindahan dan betapa berartinya seluruh isi dunia, karena dia telah mengecat seluruh isi dunia dengan warna-warna yang beraneka ragam, bukannya hanya hitam dan putih. Dia tak lagi membutuhkan dogma-dogma, sistem moralitas ataupun aturan-aturan negara dan tradisi, karena dia mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukannya walaupun tanpa instruksi sama sekali.

Hal itu jugalah yang menjadi inti ancaman bagi tatanan masyarakat saat ini. Apa yang akan terjadi apabila setiap orang dapat menentukan sendiri apa yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri tanpa membutuhkan bimbingan yang mengatas namakan moralitas? Apa yang akan terjadi apabila setiap orang melakukan apapun yang mereka pikir benar dengan keyakinan mereka sendiri dan keberanian mereka untuk menghadapi resikonya? Apa yang terjadi apabila setiap orang lebih ketakutan untuk kehilangan rasa cinta yang mereka miliki, kehilangan kegairahan hidup lebih daripada ketakutan untuk mengambil resiko, ketakutan akan kelaparan, kedinginan ataupun bahaya sekalipun? Apa yang akan terjadi jika semua orang mematikan pertanggung jawaban terhadap sistem dan memilih untuk menghidupkan impian liarnya dan menjalani hidup setiap hari seakan hidup tak pernah berakhir? Pikirkan bagaimana dunia ini jadinya! Jelas dunia ini akan menjadi sangat berbeda dengan kondisi saat ini, dunia akan menjadi sangat indah dan berwarna-warni --satu hal yang akan sangat ditakuti oleh mereka yang menguasai perekonomian pasar dan status quo: perubahan.

Dan juga, diantara imej stereotipikal yang digunakan oleh media untuk menjual pasta gigi atau liburan bulan madu, sebenarnya cinta yang bergairah berusaha dimatikan oleh kultur kita. Sikap 'terbawa oleh emosi' berusaha dibekukan, bukannya semakin didorong agar kita semua tumbuh dengan keyakinan hati kita. Bukannya malah didorong, keberanian untuk mengambil resiko atas keputusan dan kata hati selalu dihambat. Kita malah didorong untuk tidak berani mengambil resiko sama sekali dan kemudian memilih untuk jadi seseorang yang 'bertanggung jawab'. Maka cintapun didefinisikan lain. Seorang laki-laki dilarang untuk jatuh cinta kepada laki-laki lainnya, seorang perempuan dilarang untuk jatuh cinta kepada perempuan lainnya, seorang individual dilarang mencintai mereka yang memiliki latar belakang suku dan etnik yang berbeda, adanya pelarangan yang mapan dalam tradisi dimana jatuh cinta menjadi tabu diantara mereka yang memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda. Laki-laki dan perempuan harus melegalkan hubungan cinta mereka dengan menggunakan kontrak religius ataupun surat legal yang berhak menentukan apakah sepasang kekasih boleh memelihara cintanya ataukah tidak. Cinta bagi kebanyakan diri kita saat ini, adalah sesuatu yang didefinisikan lain, yang dianggap sesuatu yang hanya terdapat pada malam minggu di restoran-restoran mewah ataupun fast food multinasional terkenal atau juga di bioskop-bioskop ternama yang menguras isi dompet, yang hanya memperkaya para pemilik modal dari perusahaan-perusahaan tersebut tanpa mempedulikan bagaimana buruh-buruh mereka bekerja tepat waktu siang malam dan menguras tenaganya disitu. Dalam artian ini, 'cinta' yang komersial seperti itu berarti tidak sama dengan cinta yang menggairahkan, membakar dan saling berbagi dan memperhatikan. Pembatasan-pembatasan definisi kata cinta, penyalah gunaan kata cinta yang biasanya hanya memapankan sistem dewasa ini, telah menyingkirkan arti cinta yang sesungguhnya; cinta yang berarti seperti sebuah bunga liar yang tumbuh dengan indah tanpa pernah diharapkan untuk muncul untuk kemudian dapat berkembang dengan sesuai harapan tanpa harus ada aturan baku dalam memeliharanya.

Kita harus melawan segala bentuk pembatasan sosial dan kultural yang hanya akan mencabik-cabik dan meruntuhkan gairah yang kita miliki. Untuk hal tersebut, hanya cinta yang dapat memberikan arti kepada kehidupan, memberikan hasrat yang membuat diri kita merasa berharga atas eksistensi hidup kita dan menunjukan tujuan hidup kita. Tanpa hal-hal tersebut tak ada jalan bagi kita untuk menentukan sendiri bagaimana kita harus menjalani hidup kita kecuali mengabdikan diri kita pada penguasa, pada sesuatu yang metafisis, pada boss atau menjalani doktrin sosial yang menentukan apa yang harus kita lakukan tanpa memberikan kepuasan kepada diri kita seperti yang diberikan oleh self-determinasi. Maka karena itu, jatuh cintalah hari ini, kepada laki-laki, perempuan, kepada musik, kepada bumi, alam dan lingkungan, dengan ambisi dan dengan dirimu sendiri, dan juga jatuh cintalah kepada hidup itu sendiri!!!

Seseorang mungkin akan berkata bahwa sangat konyol untuk mendorong orang lain agar jatuh cinta --yang satu jatuh cinta atau yang lain tidak-- tapi hal ini sebenarnya tidak dapat dilakukan dengan penuh kesadaran. Emosi tidak mengikuti instruksi manapun dari pemikiran yang rasional. Tetapi lingkungan dimana kita harus menjalani hidup, memiliki influens besar bagi emosi kita, dan kita dapat membuat keputusan rasional yang dapat mempengaruhi lingkungan. Akan sangat mungkin untuk memperjuangkan perubahan lingkungan dengan cara memberikan cinta yang kita miliki kepada lingkungan yang kemudian akan memberikan emosi-emosi lain kepada orang lainnya. Jalur kita adalah untuk mengemudikan dunia kita sehingga dunia ini akan penuh dengan orang-orang yang jatuh cinta, sehingga dengan mengembalikan rasa kemanusiaan tersebut, maka kita semua akan semakin siap dengan kata-kata 'revolusi' yang selama ini kita bicarakan tanpa akhir --yang membuka jalan kepada pengekplorasian arti kehidupan dan mengisinya dengan kebahagiaan hidup kita semua.

Kebanyakan dari kita, bergerak dengan menggunakan kebencian sebagai energi kita. Tapi kita sering lupa bahwa tak akan pernah ada kebencian tanpa kita memiliki rasa cinta dalam hati kita. Karenanya, marilah kita memulai segalanya, bergabung dengan aksi resistansi dengan mulai saling jatuh cinta...

9.3.06

ODE TO BEER

When we drink, we get drunk.
When we get drunk, we fall asleep.
When we fall asleep, we commit no sin.
When we commit no sin, we go to heaven.

Sooooo, let's all get drunk and go to heaven!


-- Brian O'Rourke

8.2.06

ZAMAN MODERN

Kita hidup di zaman modern, dan tampaknya tak ada lagi yang lebih modern dari negara Amerika Serikat -tanah kebebasan dan tanah bagi para pemberani. Tetapi apa yang menyebabkan ‘Impian Amerika’ secara fundamental berbeda dari setiap masyarakat yang telah eksis sebelum kita? Jawabannya adalah konsumerisme massa atau lebih tepatnya sering disebut komodifikasi.

Dalam masyarakat kita segala sesuatu dibuat sebagai sebuah komoditas; barang maupun juga jasa yang dapat diperjualbelikan dalam sebuah pasar. Sebenarnya pasar dan uang telah lama eksis, bahkan sudah ratusan tahun lamanya, tetapi selalu saja hanya menjadi milik dari sebagian kecil saja dari seluruh masyarakat. Setidaknya hingga abad ini, sistem ekonomi pasar telah menjadi cara hidup masyarakat yang dominan; semakin mengambil alih segala aspek sisi kehidupan manusia. Kini tak ada lagi hubungan yang nyata antara produksi barang dengan kegunaannya. Malahan segala produk diproduksi hanya dengan mempunyai satu tujuan, yaitu menciptakan laba bagi mereka yang sama sekali tidak termasuk dalam proses produksi. Hal tersebut menghilangkan perbedaan yang memisahkan apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan atau tidak.

Selama sebuah perusahaan mengeruk keuntungan dan menumpuk laba, hal itu selalu saja dilakukan dan dikaitkan dengan alasan akan kontribusinya bagi peningkatan ekonomi sosial yang berpengaruh juga pada kenaikan harga barang-barang biasa (selain hasil produksi dari perusahaan tersebut). Bahkan untuk aktifitas produksi yang sebenarnya perlu dilakukan, bila dianggap kurang memenuhi standar pendapatan laba, selalu saja dianggap bukan ‘produk nyata’; tidak peduli seberapa berharga dan perlunya produk yang dihasilkan tersebut sebenarnya. Tapi ternyata kenyataan lebih buruk lagi dari hal ini. Dalam usaha untuk menghasilkan barang-barang yang diperlukan, kebanyakan orang (termasuk juga diri kita) dipaksa untuk membuat diri kita menjadi sebuah komoditas; disewakan pada sebuah pasar dengan harga tertinggi. Untuk meningkatkan nilai kita dalam harga jual sebuah pekerjaan, kita harus menginvestasikan diri kita melalui bidang pendidikan.

Sebenarnya hal terpenting dari diadakannya pendidikan ‘kemampuan bekerja’ adalah untuk belajar bagaimana menerima perintah dan menjalankan tugas-tugas yang kita terima seperti sebuah robot yang tentu saja tidak punya otak. Ingat, kita selalu diajarkan bahwa kostumer selalu benar. Kenapa? Karena mereka memiliki uang, yang dengan kata lain mereka membeli sebagian dari waktu yang kita miliki.

Dalam bekerja, kita tidak lagi mendapat kebebasan, kita tidak lebih daripada sebuah barang sewaan yang digunakan dalam sebuah sistem pengeruk laba. Pasaran pekerjaan tidak hanya membuat diri kita menjadi sebuah komoditas, tetapi juga membuat diri kita sebagai waktu itu sendiri. Waktu diluar jam kerja kita, eksis sebagai milik kita, yang tetapi ternyata juga dibuat sebagai sebuah unit-unit yang kaku dari sebuah ukuran, sisa waktu yang membuat kita menyadari bahwa tidak ada tujuan lain selain mendapatkan uang yang dapat kita gunakan dalam ‘waktu luang’ kita. ‘Waktu luang’ ini adalah saat dimana kita seharusnya bisa menyalurkan hasrat kita dan merealisasikan impian kita.

Tapi pada saat ini, (lagi-lagi) hasrat dan impian kita -seperti juga hal lainnya- telah dibuat sebagai sebuah komoditas yang diperjual belikan di pasaran. Jadi pada kesimpulannya, zaman modern tidak memiliki arti lebih selain berarti hanya zaman bagi kita untuk mengkonsumsi dan mengkonsumsi lagi. Politik pemerintahan dan pemilihan-pemilihan umum seperti juga hal lainnya, telah dibuat sebagai sebuah komoditas yang dipasarkan sama seperti cara memasarkan sebuah produk deodoran, atau juga mobil, atau juga produk lainnya.

Iklan tayangan komersial di televisi selama tigapuluh detik memberitahukan kepada kita bahwa jika kita memilih partai X dengan presiden X, bukannya memilih partai Y dengan calon presiden Y, maka negara kita akan menjadi makmur dan kita akan mendapat kehidupan yang lebih baik. Tentu saja semua orang juga tahu bahwa iklan-iklan komersial pemilu banyak bohongnya dan tidak ada perbedaan yang nyata dengan iklan Coca-cola, dan juga tak ada seorangpun benar-benar percaya pada iklan-iklan komersial yang memberitahukan bahwa ‘segalanya akan menjadi lebih baik bila meneguk Coca-cola’.

Mengapa politik terlihat tidak berbeda? Karena orang-orang hanya mencurahkan sedikit perhatiannya pada hal tersebut dan mereka akan memilih siapapun calon presiden yang paling sering muncul dan terlihat lebih baik di dalam berbagai pemberitaan di televisi. Satu-satunya bagian dari kehidupan yang benar-benar selalu dipertimbangkan dari semua rutinitas keseharian, adalah ‘keluarga’.

Zaman dulu, keluarga adalah sebuah blok bangunan fundamental dari masyarakat. Saat ini, keluarga adalah pengingkaran dari masyarakat; keluarga adalah tempat dimana kita dapat melarikan diri dari dunia di sekeliling kita. Keluarga adalah tempat dimana kita dapat mengeluarkan rasa kefrustasian kita pada orang yang kita cintai, tanpa perlu membuat perubahan dalam kehidupan masyarakat nyata. Hal ini juga akan menjadi alasan kenapa banyak politikus-politikus konservatif sangat mencintai keluarga mereka (sehingga mampu mengutamakan kepentingan keluarga diatas kepentingan masyarakat banyak yang mengarah pada terjadinya tindakan-tindakan korupsi dan sejenisnya). Tirani-tirani jaman dulu mempertahankan kekuasaan berikut aturan-aturannya dengan memproklamirkan bahwa diri mereka pernah bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan para dewa, sehingga oleh masyarakat mereka dianggap sebagai wakil para dewa diatas bumi. Sama seperti aturan-aturan saat ini yang mengklaim bahwa aturan tersebut diletakkan dalam pasar oleh ‘tangan suci’. Dan seperti juga pelajar-pelajar zaman dahulu yang mempelajari benda-benda (yang dianggap) suci untuk melihat sesuatu yang magis, saat ini kaum borjuis mengirim anak-anak mereka ke universitas-universitas untuk mempelajari hukum-hukum pasar dan ekonomi, walaupun sebenarnya sebagaimanapun beratnya mereka belajar, mereka tak akan pernah berusaha untuk mempelajari jalan-jalan dari sistem dan prinsip ekonomi kapitalis itu sendiri.

Apa yang masih tersisa yang harus kita lakukan sebagai manusia yang terjerat dalam pengeksploitasian diri kita sendiri tetapi masih mengharapkan sebuah kehidupan yang bebas? Apakah kita harus melemparkan diri kita sendiri pada roda-roda mesin dan kemudian berusaha menghentikannya dengan menggunakan tubuh kita sendiri, seperti yang telah dilakukan oleh para pelajar radikal pada pergerakan di Perancis pada tahun 60-an? Apakah kita harus membalikan punggung kita dari kekuasaan kemudian berusaha dengan susah payah untuk membangun kehidupan alternatif dalam batas masyarakat, dimana kita bisa berharap untuk dapat membangun komunitas kita sendiri yang bebas? Ataukah kita mungkin harus menunggu waktu yang tepat dan berharap bahwa akan datang pada kita sebuah kesempatan untuk menyerang kemapanan?

Mungkin kita tidak bisa menghentikan laju dari monster kapitalisme tersebut, tetapi setidaknya pada akhirnya biarkanlah kita ‘melemparkan sedikit pasir pada tatanan mesin mereka’ untuk hanya demi mempertahankan martabat kita dan untuk memberi respek pada diri kita sendiri.

(Felix Frost/Nihil Press)

19.9.05

ALIVE

Into the grave
that I dig by my self before,
falling,
burying my self
alive.

31.12.04

SEMESTA


"We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for." -Professor Keating (Robin Williams) in "Dead Poet's Society".


Semesta, cukup diciptakan dengan sebuah formula. Formula yang benar akan membentuk harmoni yang sepenuhnya berisi keindahan, dan dengan demikian mewujudkan diri. Konon formula itu mewujudkan diri dalam bentuk getaran -- bukti bahwa eksistensi hanya bisa mewujud melalui dinamika. Maka sang getaran membuka dimensi dan kuanta , yang berikutnya saling berkait dan saling mengisi menyusun semesta yang indah ini. Saat revolusi semesta membentuk manusia, untuk pertama kali semesta memiliki kesadaran. Termasuk kesadaran untuk mengaktualisasikan eksistensi dengan dinamika. Kuncinya benar-benar ada pada dinamika. Perubahan yang terus menerus dalam segala level kemanusiaan (yang artinya kesemestaan). Tentu, termasuk perubahan atas tata nilai.

Semesta selalu puisi maha indah. Karena hanya Semesta yang mencintai kita dengan keberadaan kita seutuhnya.

(Kekasih Waktu)